/Si Cabe Rawit Yang Kuat

Si Cabe Rawit Yang Kuat

Pada suatu masa, hiduplah sepasang suami istri yang tinggal di kaki pegunungan.
Atap dan dinding rumah mereka terbuat dari daun pelepah rumbia. Mereka tidur diatas anyaman daun kelapa yang dijadikan tikar. 
Pak Tani selalu menjual hasil panennya ke pasar. 
Meskipun umur mereka bertambah tua, mereka tak pernah berhenti berharap untuk memiliki seorang anak.
Setiap malam setelah Tahajjud, mereka terus berdoa agar diberikan anak.
“Ya Allah, jika engkau memberikan anak untuk kami sebesar cabe rawit pun boleh. Akan kami rawat anak itu dengan penuh kasih sayang” pintanya.
Hari pun berganti hari, Pak Tani dan Bu Tani melaluinya seperti biasa. Namun, ada perubahan yang tanpa mereka sadari telah terjadi.
Doa yang mereka pinta ditengah malam telah dikabulkan oleh Allah.  
Bu Tani tak pernah tahu kalau dia sedang mengandung seorang bayi. Sehingga pada satu malam, Bu Tani merasakan sakit perutnya sangat luar biasa.
Hujan lebat membuat Pak Tani terpaksa merawat istrinya di rumah.
Bu Tani sadari, dia telah melahirkan bayi kecil. Awalnya Bu Tani tak mempedulikan tangisan itu. Namun semakin lama tangisan yang didengar mereka mirip dengan tangisan bayi.
“Suara apa itu?”
 “Seperti suara tangisan bayi. Suaranya disekitar sini!”
 Tangisannya kencang dan memekakkan telinga. Bayi itu sekecil cabe rawit.
Mereka sangat bersyukur karena Allah telah mengabulkan permintaan mereka selama puluhan tahun lamanya.
Tangis kebahagian membasahi pipi Bu Tani. Tiada rasa syukur yang paling besar yang bisa diucapkannya sekarang. 
Bayi itu pun dirawat dengan sangat baik oleh kedua orangtuanya. Sungguh ajaib, hanya beberapa bulan saja dia sudah tumbuh menjadi perempuan yang manis.
Orangtuanya sangat lama mencari nama yang cocok untuk anak perempuan mereka.
Akhirnya mereka setuju memberi nama dengan Putroe Campli Ubet.
Setiap hari dia membaca dan menulis bersama ibu dan ayahnya.  Putroe rajin membantu orangtuanya berkebun.
Karena sering melihat ayah dan ibunya berkebun, dia semakin mahir. Setelah mereka berkebun, ayah Putroe Campli mengajari dirinya berenang di sungai dekat rumah.
Ketika panen tiba, Pak Tani pergi ke pasar untuk menjual hasil panen.
Pak Tani mengajak Putroe Campli dan ibunya untuk berbelanja pakaian, membeli buku dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Dan saat panen selalu ditunggu-tunggu oleh Putroe Campli.
Putroe Campli senang sekali jika ayahnya membawa pulang buku.
Di suatu pagi, ayahnya hendak pergi ke pasar. Putroe Campli memaksa ayahnya untuk mengijinkan dirinya menemani sang ayah.
Dia sangat kasihan melihat ayah yang sudah tua harus berjalan cukup jauh menuju pasar. Pak Tani pun mengijinkan anak perempuannya ikut.
Selama dalam perjalanan membawa hasil panen menuju pasar, Pak Tani menarik gerobaknya sendiri.
Putroe Campli berjalan di belakang gerobak sambil mendorong pelan. Putroe Campli memiliki kekuatan ajaib.
“Aneh, kenapa gerobak tiba-tiba larinya kencang?”
“Tadi aku yang menolaknya, yah”
“Ayah tak percaya, mana mungkin kamu sanggup mendorong gerobak sebesar itu”
“Kalau ayah tak percaya, coba lihat saja aku yang bawakan gerobak ini”
Akhirnya gerobak itu ditarik oleh Putroe Campli. Sungguh menakjubkan, seperti berlari gerobak itu ditariknya sampai ke pasar.
Ayah Putroe sangat kagum memiliki anak yang tenaganya sangat hebat.
Ayahnya sudah sering sakit-sakitan. Putroe Campli selalu menunggui ayahnya. Dia bercerita dan membuat ayahnya tertawa. 
“Hati-hatilah dengan kekuatan yang kamu miliki. Jangan sampai kamu melukai orang lain” pesan ayahnya.
“Baik ayah, aku tak akan mengganggu orang”
Dua hari kemudian, ayahnya meninggal dunia. Dia tak akan bisa lagi melihat ayah untuk selamanya.
Dia dan ibunya sangat sedih. Setelah kematian ayahnya itu, Putroe Campli menghabiskan waktu berkebun bersama ibu.
“Orang yang sudah meninggal akan disiksa di alam kubur jika kita menangisinya. Jadi jika kita sayang padanya kita harus mendoakan dan tak boleh menangis setiap hari”
Kemudian Bu Tani mengalihkan pembicaraan. “Sudah lama kita tidak punya garam ya nak?”
“Iya, besok biar aku saja yang ke pasar untuk menjual hasil kebun ini”
“Jangan, biar ibu saja. Atau kita berdua yang pergi, bagaimana?”
“Setuju bu”
Mereka berdua pergi kepasar keesokan harinya. Ibu Putroe Campli memanggul keranjang sayur.
Dari hasil sayur yang dijual itulah mereka membeli garam, gula dan beberapa potong pakaian.
Bu, minggu depan yang ke pasar aku saja ya? Aku khawatir ibu sakit” lanjutnya.
“Ah, ibu masih kuat. Ibu kan pekerja keras”
“Bukan aku menyinggung ibu. Tapi aku mohon ibu tinggal dirumah saja ya?”
“Ibu merasa masih sangat kuat untuk ke pasar. Malahan yang membuat ibu khawatir jika kamu pergi sendirian kesana” jelas ibu.
“Ibu cukup mengizinkan saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri”
“Kamu memang anak ibu yang lucu Putroe. Ya sudahlah, ibu mengizinkan kamu pergi”
“Terimakasih ibuku sayang?” Putroe memeluk ibunya.
Dia sangat senang mendapat izin dari ibunya. Dia semakin tak sabar menunggu hasil panen dari kebun untuk pergi ke pasar. Dan tibalah hari yang ditunggu-tunggu Putroe Campli.
“Hati-hati dijalan ya nak?”
“Ia bu, doakan aku selamat pergi dan pulang”
Putroe Campli menggunakan kekuatannya. Maka sebentar saja, dia sudah sampai di persimpangan jalan.
Tanpa melihat kiri kanan, Putroe Campli menarik gerobak seolah-olah ia masih berada di jalan rumahnya. Tanpa disadari, tiba-tiba dari arah yang berlawanan datanglah sepeda pedagang.
“Bruuuuuuk…praaaaak”
Putroe Campli masih belum tau kalau dia sudah ditabrak oleh seseorang. Ketika dia menarik, gerobaknya tertahan.
“Aduh..aduuuuuuuh. Siapa yang taruh gerobak ini ditengah jalan? Teriak pedagang itu
“Ini gerobakku”
Pedagang itu pun langsung ketakutan ketika mendengar suara lengkingan yang sangat besar.
“Jangan-jangan ini gerobak hantu” batin pedagang. 
“Iih, mendingan aku kabur saja dari tempat yang bersyetan ini”
“Ini aku, jangan takut” panggil Putroe Campli
Putroe Campli merasa heran kenapa pedagang itu melarikan diri.
Dia pun duduk sambil menunggu orang yang akan melewati jalan itu. Namun sudah setengah hari dia menunggu, tak satupun orang yang muncul. Memang daerah tempat tinggal Putroe sangat sepi. 
Putroe kemudian bangun dan melihat isi keranjang pedagang tadi. Alangkah terkejutnya, dia melihat ada banyak pakaian baru dan uang.
“Mana gerobak kita?”
“Gerobak sudah hancur di persimpangan jalan bu. Ketika dia mendengar suaraku, pedagang itu langsung melepaskan keranjang ini dan mengayuh sepedanya pergi. Jadi aku menunggu lama sampai pedagang itu kembali.”
Setelah kejadian itu, Putroe Campli mulai dilarang pergi kepasar. Ibunya tak mau membuat orang-orang ketakutan.
Siapa yang tak takut mendengar suara lengkingannya itu, belum lagi badannya yang kecil tak mudah dilihat orang.
Cabe rawit pun membuat gerobak baru. Tujuannya untuk menjual sayuran itu di persimpangan jalan.
Putroe memang cerdas, pedagang-pedagang yang lewat mau membeli dan bahkan memberi barang dagangnya untuk Putroe.
Kehidupan Putroe Campli semakin makmur. Mereka tak pernah lagi hidup kesusahan.
Putro sering sekali membantu para pedagang dengan tenaganya yang besar itu.
Akhirnya kekuatan Putroe Campli tersebar. Putroe Campli sangat senang bisa berguna untuk orang banyak.
Facebook Comments
Bagikan ini...

Pengusaha Muda, Pengajar, dan Tourist Guide