/Kisah Si Burung Pipit Berlidah Pendek

Kisah Si Burung Pipit Berlidah Pendek

Kakek dikejutkan dengan suara cip..cip yang berasal dari rerumputan. Ternyata hewan itu adalah seekor burung pipit yang malang.
Dia mengepakkan kedua sayapnya ketika kakek mendekat. 
Warna burung pipit itu sangat cantik.
“Kasihan sekali kakinya patah”
Kakek langsung mengambil lidi, kain kasa, dan daun obat yang sudah dihaluskan.
Kakek menyambung kembali kaki si burung yang malang itu. Lalu, kakek memasukkan burung pipit kedalam sangkar untuk beristirahat.
Keesokan harinya pipit sudah terlihat lebih segar. Dia menghabiskan semua makanan yang diberikan oleh kakek untuknya.
Kaki burung pipit yang telah diobati oleh kakek sembuh tak berbekas.
Setelah satu minggu, kakek pun membawa pipit ke sawah. Dia menemani kakek bekerja.
Hari demi hari Sizume semakin mahir terbang berkat latihan dari kakek. Kakek tambah sayang karena burung peliharaannya patuh dan rajin belajar.
Nenek tak suka melihat kakek berbicara dengan Sizume layaknya manusia. Nenek berencana untuk mengusir burung pipit peliharaan suaminya itu.
Suatu pagi ketika kakek hendak pergi ke sawah bersama Sizume. Nenek mengaduh kesakitan di kamar.
Nenek memohon agar kakek mau meninggalkan burung pipit untuk menjaganya.
“Jaga nenek dengan baik”
Sizume terbang menuju sangkarnya untuk melihat sisa makanan tadi malam. Sizume makan dengan lahap.
Tiba-tiba badannya sudah tercekik kuat tak bisa lagi bergerak.
“Berani-beraninya kamu makan berasku! Akan aku beri hukuman untuk perbuatanmu ini”
“Huuk…huk, maaf nek”
Nenek menarik lidah Sizume keluar dengan paksa. Lalu diambilnya pisau dapur.
Tanpa menjawab, nenek langsung memotong lidahnya Sizume. Dia mencicit kesakitan.
“Pergi kau!”
Kakek buru-buru pulang karena perasaannya tak beres.
“Kemana perginya Sizume?”
“Aku tidak tau, aku disini terus. Bisa jadi dia sudah pergi”
“Tak mungkin Sizume pergi tanpa pamit”
Kemudian, kakek langsung mencari Sizume ke dalam hutan.
Namun tak ada jawaban dari pipit kesayangannya itu. “Sizume, di mana engkau burung pipitku yang malang?”
Sampai malam, kakek tak menemukan Sizume. Kakek lalu mencari tempat untuk beristirahat.
Rencana kakek besok pagi akan dilanjutkan lagi pencariannya.
Kakek melanjutkan pencariannya begitu matahari terbit. Sampai siang hari, kakek belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan Sizume.
“Apakah Sizume sudah mati?” batin kakek.
Tanpa henti-hentinya kakek memanggil nama burung kesayangannya itu.
“Sizume oh Sizume, keluarlah pipitku yang malang”, teriakan kakek menggema ke seluruh hutan.
Segerombol burung yang bertengger diatas pohon bambu sedang memperhatikan kakek. Lalu burung itu terbang merendah mendekati kakek.
“Apakah kakek hendak bertemu dengan Sizume?”
“Ia, dimana Sizume?”
“Mari ikut biar aku tunjukkan”
Lalu kakek ikut kemana dibawa oleh si burung itu. Seperti dalam mimpi, kakek tak percaya tentang apa yang telah dilihatnya.
Sizume mendekati kakek, namun dia sudah tak bisa bicara lagi. Dia membiarkan kakek mengelus-ngelusnya.
Sizume ternyata sangat rindu sama kakek, tetapi Sizume tak berani kembali ke rumah.
Sizume menceritakan perlakuan nenek terhadapnya. Malam itu kakek mendengarkan cerita yang sebenarnya.
Ternyata Sizume peri terakhir yang dilindungi oleh kelompoknya. Mereka pergi dari negeri peri dengan menyamar menjadi burung pipit.
“Kami sudah lama tinggal di tengah hutan ini demi menyelamatkan generasi peri”
“Sampai akhirnya, tiba-tiba aku melihat seekor kucing hitam. Saat dia hendak menangkapku, aku melawan. Dan akhirnya kakiku terkena gigitannya sehingga patah. Beruntung ketika itu, kakek langsung menemukanku”.
Tiba-tiba Sizume berubah wujud menjadi seorang peri yang sangat anggun. Tumbuh dua pasang sayap transparan di belakang punggungnya.
Warna peri yang kehijauan menambah cantiknya Sizume.
“Aku sudah memaafkan nenek. Semua yang menimpa kita tak ada yang jelek, semua pasti ada hikmahnya”.
Sizume memberikan hadiah untuk dibawa pulang.
Ada dua kotak, satu kotak besar dan satu lagi kotak yang kecil. Kakek memilih kotak yang kecil dengan alasan tak sanggup membawa pulang kotak besar karena sudah tua.
Sizume mengantar kakek pulang melalui jalan rahasia, sehingga hanya beberapa saat kakek sudah berdiri di perbatasan hutan.
“Di dalam kotak itu terdapat dua kotak kecil. Satu kotak yang terkunci jangan dibuka sampai tiga bulan kedepan. Kotak satu lagi berisi tiga biji semangka. Kakek harus menanam ketiga biji semangka itu. Kakek harus ingat baik-baik pesanku ini”
Kakek mengangguk tanda mengerti. Kemudian Sizume mengucapkan salam perpisahan.
Sesampai di rumah, nenek sangat marah sama kakek karena sudah tiga hari kakek tidak pulang-pulang.
Nenek semakin marah ketika kakek menceritakan kalau dia baru saja bertemu dengan Sizume.
Kakek memberitahukan, bahwa dirinya kecewa sama nenek karena sudah menipunya.
Nenek langsung membuka kotak hadiah itu. Nenek membuka kotak yang tidak terkunci. Dia melihat isinya hanya berisi tiga biji semangka.
“Ha..ha…ha, hadiahnya cuma biji semangka busuk”, kata nenek sinis.
Namun ketika nenek hendak membuka kotak yang terkunci itu. Kakek lalu merampas kotak rahasia sambil menegur nenek.
Kakek menjelaskan pada nenek bahwa kotak ini tak boleh di buka selama tiga bulan kedepan.
Nenek merasa penasaran kenapa kotak itu disembunyikan. Dan nenek semakin marah pada Sizume, kenapa hanya kakek saja yang diberikannya hadiah.
Keesokan paginya, kakek mulai menanam ketiga biji semangka itu. Kakek juga ikut penasaran, apalagi hadiah dari Sizume dalam kotak terkunci itu.
“Aneh-aneh saja hadiah dan pesan dari Sizume”, batin kakek.
Selama kakek menjaga semangka, kesempatan nenek untuk mencari kotak terkunci yang selama ini disembunyikan.
Tapi selama ini usahanya sia-sia saja. Nenek tak menemukan tanda-tanda dimana kakek menyembunyikan kotak itu.
Sangking marahnya, nenek menghancurkan semua benda-benda yang ada di rumah.
Begitu juga dengan kuali dipecahkannya. Dan ketika menghancurkan guci tempat penyimpanan beras.
Tiba-tiba…
“Ternyata barang yang selama ini aku cari ada di bawah guci beras ini”, gumam nenek.
Nenek langsung mengambil kotak yang terkunci itu dan membukanya dengan kunci yang terjepit dikotak yang berukiran kelopak bunga.
Dalam kotak terdapat cincin emas yang berkilau. Nenek langsung memakai cincin itu dijari manisnya.
Tubuhnya bergetar hebat. Nenek menjerit-jerit kesakitan. Lalu tubuh nenek berubah menjadi seekor ular besar yang mengerikan. Nenek melihat kaki dan tangannya semua menyatu.
Nenek sangat menyesal karena tidak mau mendengar larangan kakek. Nenek akhirnya pergi mencari kakek di kebun semangka.
Sesampai nenek disana, kakek sangat terkejut karena ada ular besar muncul tiba-tiba. Kakek mengambil parang untuk mengusir ular itu.
Namun, ular itu tak mau pergi. Ular itu semakin mendekat kearah kakek. Karena kakek ketakutan, kakek mengayun-ayunkan parangnya.
Tanpa sengaja mengenai ekor si ular. Ular itu mendesis karena kesakitan dan pergi meninggalkan kakek.
Kakek mencari nenek selama beberapa hari, tetap saja nenek tak dijumpainya.
Kakek yakin, neneklah yang sudah mencuri kotak rahasia itu dan membawanya pergi.
Hari yang ditunggu sudah tiba, buah semangka sudah bisa dipanen.
Ketika kakek mulai membelah semangka pertama, kakek sangat terkejut. Dalam semangka itu keluar emas dan berlian.
Kakek lalu membelah semangka kedua. Bukan main terperanjatnya kakek.
Dalam semangka kedua itu keluarlah puluhan pekerja dengan peralatan yang lengkap.
Dalam semangka itu secara ajaib keluar bahan bangunan.
Tanpa menunggu, para pekerja itu langsung bekerja secara ajaib. Kakek melihat ada cahaya kebiru-biruan yang muncul di depannya.
Kakek mendengar seperti ada yang menyuruh para pekerja itu untuk bekerja lebih cepat lagi.
Namun kali ini, melihat sendiri rumahnya dibangun dalam waktu sekejap membuat diri kakek pingsan.
Setelah terbangun dari tidur lamanya, kakek melihat kalau dia sekarang berada dalam rumah yang sangat mewah.
Tiba-tiba kakek yang menjadi pemuda gagah itu melihat gerombolan burung pipit beterbangan disampingnya.
Tepat di depannya, berdirilah Sizume.
Facebook Comments
Bagikan ini...

Pengusaha Muda, Pengajar, dan Tourist Guide