/Cerita Naga Dari Aceh Selatan #1

Cerita Naga Dari Aceh Selatan #1

Naga jantan memiliki tanduk yang besar dibagian atas kepalanya. Janggut di dagu dan lehernya berkilau seperti mutiara.
Namun naga betina justru mempunyai tanduk yang lebih ramping dan hidung yang lebih kurus. Naga betina tidak memiliki janggut.
Biasanya naga kebanyakan berwarna hijau dan biru. Kedua warna ini memiliki energi keberuntungan bagi sang naga.
Para naga melakukan meditasi ratusan tahun lamanya untuk mendapatkan kedua warna keberuntungan itu.
Konon, di daerah Cina yang menjadi tempat naga ini tinggal, kutukan sangat ditakuti. Dan saat itu, cuaca buruk sedang melanda daratan Cina.
Kaum naga pun menghubungkan kutukan dengan kesalahan dari kalangan naga.
Sesuai dengan aturan para naga, bagi pasangan naga yang tidak memiliki keturunan berarti mereka pembawa sial.
Kebetulan sekali diantara mereka ada sepasang naga yang tak kunjung memiliki anak. Lalu raja memanggil pasangan naga itu ke istana.
“Semenjak nenek moyang naga, pasangan naga yang tidak memiliki keturunan maka harus meninggalkan tempat ini”
“Pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah kembali jika kalian belum memiliki keturunan,” tambah raja naga lagi.
Naga betina merasa putus asa. Rasa sakit hati karena dianggap sebagai naga pembawa sial terus berkecamuk dalam dirinya.
Naga betina meratapi nasib mereka yang malang.
“Masalah ini tidak buruk, kita beruntung bisa pergi. Siapa tau kita dapat menemukan suatu tempat yang jauh lebih baik dari sekarang,” ucap naga jantan yakin.
Ketika diusir, mereka pergi tanpa tujuan. Mereka sudah 14 hari berada di lautan lepas.
Tujuan mereka hanya pergi sejauh mungkin dari tempat mereka berasal. Akhirnya karena terlalu lelah, suatu hari mereka menepi dekat pantai untuk beristirahat.
“Kita akan pergi kemana?” tanya naga betina.
“Aku belum tahu tujuan kita. Kita akan pergi kemana alam memanggil kita” jawab naga jantan
Setelah cukup beristirahat, mereka langsung pergi.
Ketika berenang, tiba-tiba ada tarikan kuat yang mereka rasakan. Semakin mereka menuju ke arah Laut Hindia, tarikan itu semakin hebat. Naga jantan sangat penasaran.
“Ayo kita cari apa yang sedang menarik kita ini,” ajak naga jantan semangat.
“Jangan, ini terlalu berbahaya. Kita belum tahu apa yang menunggu kita disana”
“Jangan khawatir, aku sangat yakin tempat itu yang akan menjadi rumah kita kelak.”
Akhirnya mereka berdua setuju untuk mencari. Semakin mereka mendekati Samudra Hindia, semakin kuat tarikan yang mereka rasakan.
Setelah dua hari berenang, sampailah mereka di tempat yang cukup asing. Tempat itu berada dekat dengan pinggir pantai dan terdapat banyak batu karang.
“Inilah tempat yang menarik kita sampai disini”
“Sepertinya tempat ini sangat cocok untuk kita”
“Daerah ini sangat sempurna. Lihat! gunung dan laut mengelilingi tempat ini, indah sekali” Teriak naga betina kegirangan.
“Benarkan, kita akan mendapatkan tempat yang jauh lebih baik dari tempat kita dulu?” 
Kala itu, mereka tidak menyadari kalau sedang diperhatikan oleh seorang manusia sakti.
Mereka masih mengagumi keindahan alam ditempat baru itu.
Manusia sakti itupun dengan cepat keluar dari gua pertapaannya untuk menyambut tamu baru itu. Lalu dia memperkenalkan dirinya.
“Namaku Tuan Tapa, aku tinggal disini dan bertanggung jawab penuh atas ketentraman tempat ini”.
“Siapa gerangan kalian?” tanya Tuan Tapa sopan.
“Kami sepasang naga yang datang dari daratan Cina” Jawab naga jantan
“Kami diusir karena tidak memiliki keturunan ” tambah naga betina
“Apa maksud kalian datang ke tempat ini?
“Kami datang kemari karena mencari tahu apa yang telah menarik tubuh kami. Kami mohon agar tuan mengijinkan kami untuk tinggal disini,” pinta naga jantan.
“Baik, aku mengijinkan kalian untuk tinggal disini. Namun ada syarat yang harus kalian penuhi. Jika kalian sanggup, kalian boleh tinggal disini”
“Baik tuan, kami setuju. Apa saja syaratnya tuan?”
“Kalian tak boleh membunuh manusia, mengganggu binatang, dan merusak tumbuhan”. Bagaimana kalian setuju?”
“Baik tuan, kami sanggup memegang janji kami. Jika kami ingkar, kami bersedia diusir.”
“Sekarang kalian boleh istirahat.
Tempat tinggal kalian di seberang gunung itu,” tunjuk tuan. “Jaraknya hanya enam kali badan kalian”. 
“Terimakasih atas kemurahan hati dan penerimaan tuan.”
Kedua naga itu berenang menuju gunung yang ditunjuk oleh tuan. Mereka merasa kelelahan karena sudah lama tidak cukup beristirahat.
Dalam perjalanan mendaki, bebatuan kecil berhamburan kena pijakan kaki mereka. Bekas dari pijakan kaki mereka berbentuk jalan kecil yang unik.
Mereka mendaki gunung yang tinggi itu, dan akhirnya sampailah mereka di puncak gunung. Mereka bisa beristirahat.
Facebook Comments
Bagikan ini...

Pengusaha Muda, Pengajar, dan Tourist Guide