Apa Sakit Yang Paling Sakit?

Lagi-lagi ini obrolan muridku yang kutulis. Yafi memang paling senang membaca. Usianya tak sebanding dengan wawasannya. Menurutku ia pintar dan lucu.
Yafi : Main tebak-tebakkan yok, Ris? Aku mau nanya ni, sakit apa yang paling sakit?
Haris : Sakit perut
Yafi : Salah, ayo tebak lagi!
Haris : Sakit gigi, sakit kepala, sakit mata, sakit telinga.
Yafi : Bukan, masih salah. Masih mau nebak?
Haris : Aku nyerah, ga tau lagi!
Yafi : Itu semua masih mending sakitnya, daripada sakit tidak punya perut, tidak punya gigi, tidak punya kepala, tidak punya mata, telinga.
Haris : Haaaa? (wajah bingung)
Bagikan ini...

Ikan Asin Vs Bule

Ini cerita dosenku saat belajar di Amerika. Mereka sangat ingin makan ikan asin. Sudah berhari-hari mereka memikirkan cara memasak ikan asin agar tak terdeteksi alarm yang ada di apartemen.
Akhirnya tantangan cara memasak pun terpecahkan. Mereka menutup alarm menggunakan kain penutup supaya alarm tidak bisa mendeteksi bau sehingga aman untuk memasak.
Asap merembes melalui celah pintu apartemen. Lalu alarm di kamar sebelah pun berbunyi.
Tetangga mereka menggedor pintu. “what’s wrong?” Si bule sangat panik.
“Nothing, it is ok. We are cooking”, jawab mereka sambil senyum.
“Cooking? Your food smell like dirty sock”, tambah bule.
Nasib tak berpihak sama mereka. Meskipun tak sukses memasak, paling tidak mereka bisa melepas kangen.
Ikan asin bagi bule seperti bau kaus kaki busuk.
Ga tau dia, itu makanan paling enak sejagat. Hana engkot masen, han abeh bu siare.
Bagikan ini...

Rumah Sakit Impian

Menjadi pengajar membuatku jeli mendengar apa yang mereka bicarakan. Bagiku ini percakapan lucu antara Alul dan Nabil beberapa minggu lalu. Sayang kalau aku tak menulisnya.
Alul : Kemaren aku jenguk teman di Rumah Sakit Zainal Abidin, Banda Aceh. Yang membuatku heran, semua nama kamar menggunakan nama buah, bunga, dan pohon.
Nabil : Kenapa kamu heran Alul? Kan setiap rumah sakit memang menggunakan nama itu.
Alul : Tapi kalau menurutku, aku yakin sekali orang akan cepat sembuh kalau ….(diam)
Nabil : Contohnya nih, kalau orang sakit di tempatkan di kamar wortel, akan cepat sembuhnya. Kan wortel mengandung banyak vitamin.
 Alul : Aku pengen punya rumah sakit. Aku akan kasih nama  pocong, hantu, kuntilanak, gendorowo, vampire, dan hantu blawu. Agar semua orang yang sakit cepat sembuh karena nama-nama ini akan memberi efek yang bagus untuk pasien. Hehhehh…..hehehheh
Nabil : iiiiii…..iiiii…iiii. Kalau aku sakit, aku tak akan sudi masuk ke rumah sakitmu, Alul.
 
 
 
 
 
Bagikan ini...

Sakit Itu Penggugur Dosa

Badanku terasa sakit. Aku merasa kurang semangat.
Telingaku berdengung, hidungku susah sekali untuk bernapas. Kepalaku juga terasa pening.
Air mata meleleh, padahal aku tak menangis. Tangan dan kaki ku terasa gemetar.
Aku tau sekarang sedang musim penghujan, cuacanya sungguh sangat dingin sekali.
Aku tak dapat menikmati kue enak yang dibuat oleh bundaku. Aku tak sanggup pergi sekolah, les, bahkan mengaji.
Aku susah tidur serta badanku tambah panas.
Aku tak mengeluh tentang sakit yang aku derita. 
Kata bunda, “sakit itu penggugur dosa jika kita sabar”.
Saat aku sakit, aku bersyukur karena Allah memberiku nikmat sehat yang paling berharga.
Allah sayang padaku.
Allah sedang mengampunkan dosa-dosaku melalui sakit yang aku derita ini.
Allah telah memperingatkan diriku kalau kesehatan itu amat berharga sekali.
Sehat itu sangatlah penting.
Aku harus belajar untuk menjaga tubuh ini.
Dengan cara makan yang sehat dan tidur yang cukup.
Dan rajin olahraga agar tubuh selalu bugar.
Saat aku jatuh sakit, aku melihat ayah dan bunda begitu sibuk merawatku.
Aku tau orang tua ku sangat sayang padaku. Mereka mau menjagaku saat sakit.
Aku sungguh berterimakasih pada mereka berdua.
Mereka merawatku sampai aku semakin tambah baik setiap harinya.
Meskipun aku tak sanggup makan. Bunda tetap sabar membujukku.
Bunda pandai bercerita sehingga tanpa aku sadari aku telah makan dari suapan bunda.
Aku membuka mulut lalu mengunyah pelan sambil terdiam mendengar cerita.
Bunda sungguh jago merawat ku.
Meskipun aku tak suka obat karena rasanya yang pahit. Dokter berpesan agar aku tetap meminumnya.
“Walaupun obat terasa pahit tetapi harus diminum agar lekas sembuh”.
“kamu harus rajin minum air putih”, tambah dokter.
Aku harus tidur yang cukup, tak boleh menonton televisi.
Rajin makan tanpa harus dipaksa-paksa.
Agar penyakit tak suka hinggap di tubuhku.
Begitulah yang aku ingat saat aku memeriksa diri sama dokter.
Bagikan ini...

Cerita Naga Dari Aceh Selatan #3

Putroe sudah berumur belasan tahun. Banyak pertanyaan yang Putroe tanyakan pada kedua orangtua asuhnya itu.
Dia sangat suka sekali mendengar cerita sebelum tidur. Kedua naga menceritakan cara berburu dan mitos tentang negeri naga.
Naga jantan dan naga betina mulai melarang Bungsu keluar dari gua.
Mereka merasa takut jika Putroe Bungsu diambil dari mereka.
Hari demi hari Putroe berada dalam kurungan.
Disekeliling tempat bermain Putroe sudah dipagari oleh sang ayah. 
Putroe Bungsu menghabiskan waktunya untuk membaca dan menulis. Semakin dia melupakan rasa ingin tahu tentang dirinya, semakin kuat rasa itu mendekatinya.
Putroe berkali-kali meminta maaf agar diampuni dan diberikan waktu bermain seperti biasa. Namun sayang, permintaan maaf Putroe tak pernah digubris oleh kedua naga itu.  
Setiap kali dia melihat kapal besar yang melewati gunung tempat tinggalnya, bungsu ingin sekali bisa berada diatas kapal itu.
Dia bahkan sering melambaikan tangan, namun sayang tak ada orang yang melihat bungsu diatas gunung sana.
Orangtua asuhnya itu sudah semakin jarang pulang ke gua, sehingga Putroe harus tidur sendiri setiap malam di gunung.
Tuan Tapa sudah lama melihat keanehan yang terjadi dalam pengasuhan naga.
Tuan berkeinginan untuk menceritakan siapa sebenarnya Putroe.
Tuan Tapa pergi ke kerajaan Asranaloka dan menceritakan kepada kedua orangtuanya bahwa anaknya masih hidup.
Raja dan permaisuri sangat berterimakasih pada Tuan Tapa karena sudah mau memberi kabar tentang anak bungsunya.
Tanpa menunggu lama, raja pun berangkat menuju daerah yang belasan tahun dulu pernah dilaluinya.
Ketika orangtua Putroe tiba di Aceh Selatan, kedua naga belum pulang.
Mereka menunggu kedatangan naga untuk meminta ijin membawa Putroe bersama mereka.
Tuan Tapa mengirim pesan melalui gelombang laut untuk menyuruh kedua naga itu pulang.
“Hai naga, kalian disuruh pulang oleh Tuan Tapa.”
Tidak begitu lama, siang hari mereka sudah berada di gua, namun mereka sangat terkejut ketika melihat Putroe tidak ada dalam kurungan. Mereka semakin marah.
“Ini pasti ulah Tuan Tapa!”
 “Ternyata kamulah yang menculik anak kami!” teriak naga jantan.
“Tahan amarahmu!” jawab Tuan Tapa. “Kedua orangtua Putroe ingin bertemu dengan anaknya sebentar”.
Tanpa disuruh, raja memperkenalkan dirinya.
“Saya orangtua Putroe. Kami sangat berterimakasih kepada kalian berdua karena sudah memelihara anak kami sampai dia besar” jelas sang raja.
“Tak ada satupun manusia yang berhak mengambil anak itu dari kami!” bentak naga betina.
“Kalau kalian berani, maka kalian akan mati semua!” tantang naga jantan dengan marah.
Tanpa menunggu, naga betina melibaskan ekornya yang panjang untuk mengambil Putroe.
Dia berencana untuk membawa lari Putroe. Namun sayang, usaha yang dilakukan oleh naga betina cepat terbaca oleh Tuan Tapa.
Tuan Tapa langsung berubah menjadi sangat besar. Laut hanya sebatas pinggang Tuan Tapa.
Naga jantan melampiaskan amarahnya pada kapal raja. Kapal itu hancur berkeping-keping.
“Kalian tidak tau balas budi manusia, ini bukan anak kalian,” teriak Tuan Tapa marah.
Naga jantan dan naga betina berlomba untuk membunuh Tuan Tapa.
Naga jantan dan naga betina terlalu menganggap remeh Tuan Tapa. Mereka yakin bisa menang karena dua banding satu.
Namun sayang, ketika naga jantan membuka mulut untuk melahap Tuan Tapa, tanpa dia sadari Tuan Tapa sudah berpindah tempat secara ajaib.
Kedua naga itu tidak mengetahui kalau tongkat dan kopiah Tuan Tapa memiliki kekuatan yang jauh lebih besar.
Naga jantan dengan sangat semangat terus menerus mengejar bayangan sang tuan.
Namun apa yang terjadi, ketika naga jantan sibuk dengan bayangan itu.
Dia tidak menyadari bahwa Tuan Tapa yang asli melemparkan tongkat tepat kearah dadanya.
Saat naga jantan berhasil mendekati bayangan Tuan Tapa, dia jatuh dengan tubuh terbelah menjadi dua bagian. 
Darah yang keluar dari tubuh yang hancur itu berwarna hitam pekat.
Sedangkan darah yang berasal dari hati dan jantung naga berwarna merah.
Percikan darah naga jantan membasahi pesisir pantai. Lalu darah-darah tadi berubah menjadi batu merah dan batu hitam.
Naga jantan pun mati dengan sangat menggenaskan.
Naga betina sangat marah pada Tuan Tapa. Dia lalu menyerang Tuan Tapa tanpa ampun. Gerakannya semakin membabi buta.
Libasan ekor naga betina bisa ditangkis dengan kopiahnya. Tuan selamat dari jurus naga betina.
Namun, ekor yang tertangkis dengan kopiah tuan mendarat disebuah gunung paling besar.
Gunung itulah yang menjadi bukti kebengisan naga betina sampai sekarang. Gunung yang hancur dinamakan dengan pulau banyak yang berada di Kabupaten Singkil.
Naga betina merubah niatnya untuk mengadu kesaktian dengan Tuan Tapa. Akhirnya, ketika dia melihat ada peluang untuk melarikan diri.
Dia mengambil kesempatan itu dengan cepat. Lalu dalam sekejap naga betina menghilang dari hadapan tuan.
Tuan sangat senang karena keluarga Putroe semuanya selamat. Orangtua Putroe sangat berterimakasih pada tuan.
Akhirnya, raja dan permaisuri menetap di Aceh selatan, mereka tidak bisa kembali ke kerajaan Asralanoka lagi.
Konon, setelah tuan meninggal, orang memberi nama dengan Tapak Tuan untuk mengenang Tuan Tapa.
Sampai sekarang tapak sang tuan masih bisa kita lihat di Aceh Selatan.
Bagikan ini...

Cerita Naga Dari Aceh Selatan #2

Keesokan paginya, naga jantan dan naga betina bangun lebih awal untuk mencari makanan.
Mereka tercengang melihat banyak sekali tumbuhan pala, cengkeh, nilam dan lada tumbuh.
“Tanah disini jauh lebih subur dari tempat kita,” kata naga jantan sambil mengagumi keindahan alam sekitar.
“Sungguh bahagia rakyat yang hidup di daerah ini. Mereka sangat makmur dengan hasil alam yang berlimpah” tambah naga betina.
Pemandangan di laut juga tak kalah menariknya, mereka melihat kapal-kapal berlayar melintasi Laut Hindia itu.
Kedatangan kapal-kapal asing itu untuk mencari rempah-rempah yang ada di Aceh Selatan.
Sejak dulu sampai sekarang daerah Aceh Selatan sangat terkenal dengan rempah. Dan sekarang kota ini dijuluki dengan kota pala.
Ketika mereka jalan-jalan, naga jantan melihat warna kuning mengapung indah diatas air.
Naga jantan pun mendekat, dan melihat warna kuning itu ternyata buah pinang.
“Wah, indah sekali tempat ini, sayang kalau kita biarkan tempat ini tidak bernama,”
“Benar juga ya, aku punya ide. Bagaimana kalau kita beri nama dengan desa air pinang.”
“Ide yang bagus, aku setuju. Sekarang tempat ini sudah bernama,” jawab naga jantan senang.
Lalu mereka pergi dari situ.
“Aku sudah lapar, mari kita cari makanan” Ajak naga betina.
Mereka berenang ketengah lautan, ketika mereka sedang menyedot ikan-ikan.
Tiba-tiba sebuah bukit kecil terbang menuju tepi pantai.
Apa gerangan bukit terbang ini berada diatas kepala mereka.
Bukit terbang itu perlahan-lahan berhenti, dan mereka memberi nama menjadi desa terbangan.
Setiap hari mereka menjelajah dan mencari tempat-tempat baru yang belum mereka datangi.
Di hari kedua, mereka melihat sekelompok udang besar berenang menuju muara sungai.
Kemanapun naga melihat seolah-olah air itu berudang. Lalu mereka menamakan tempat itu dengan nama desa air berudang.
“Apa yang terjadi disini?”
“Sepertinya ini badai laut yang menghantam kapal,” jelas naga jantan.
Ketika mereka hendak pulang, mereka mendengar bunyi tangisan.
Mereka pun mendekat dengan hati-hati. Dan naga betina berteriak sangking terkejutnya, “Ada seorang bayi!”
Naga jantan pun mendekat dan ingin melihat apa yang telah dilihat oleh istrinya tadi. Mereka berdua terpaku menatap bayi malang itu.
“Kasihan kalau kita tidak mengambil bayi ini, dia akan mati kepanasan di tengah laut” bisik naga betina iba.
“Kalau begitu, kita ambil saja untuk anak kita” saran naga jantan
Mereka berenang menuju tempat pertapaan Tuan Tapa.
Sesampai di tempat Tuan, mereka menceritakan tentang bayi itu.
Tuan lalu mengajari kedua naga itu cara mengasuh dan merawat bayi manusia.
“Bayi ini anak manusia, jadi kalian harus belajar cara memelihara bayi ini. Jika kalian tak menjaganya, bayi ini akan mati” tambah tuan.
Tuan Tapa bisa mendapatkan petunjuk tentang suatu kejadian dan juga mampu berpindah tempat dalam sekejap mata.
Selain dari kedua kesaktiannya itu, dia mampu mengubah badannya menjadi lebih besar. 
Naga jantan dan naga betina sudah membawa pulang bayi perempuan yang mereka temukan.
Naga betina teringat pesan dari Tuan Tapa untuk memberikan botol susu itu langsung ke mulut si bayi.
Malam itu, si bayi tidak rewel. Dia sama sekali tidak menangis. Bayi perempuan itu tidur dalam pelukan sang naga betina.
Tuan Tapa mulai menceritakan tentang mimpi yang didapatnya semalam.
“Bayi perempuan ini anak seorang raja dari kerajaan Asranaloka, dia bayi bungsu dari tiga bersaudara. Ketika badai laut menghancurkan kapal orangtuanya, dia terlepas ketengah lautan sendirian” cerita Tuan Tapa.
Saat naga jantan dan naga betina mendengar cerita dari Tuan Tapa, mereka berniat untuk menjaga bungsu dengan baik.
Hari demi hari anak perempuan itu dirawat dengan baik.
Naga adalah makhluk yang sangat cerdas. Ingatan naga sangat kuat, apapun yang mereka dengar, mereka lihat, dan mereka rasakan tak akan mereka lupakan.
Naga jantan sangat menyayangi Putroe Bungsu, dia sering membawa pulang buku-buku bacaan yang dia dapat selama mencari makan.
Terkadang, naga jantan memberanikan diri untuk meminta imbalan buku bagi kapal yang ditolongnya ditengah laut.
Para manusia itu sangat senang, karena setiap kali bertemu dengan naga jantan mereka akan ditolong.
Putro Bungsu tumbuh menjadi anak yang sangat cerdas.
Waktunya dihabiskan untuk membaca dan bermain di tempat yang telah dibangun oleh ayah itu.
Naga jantan membuat tempat pemandian yang bertingkat agar Putroe bisa betah berada dekat dengan gua.
Tempat pemandian itu membuktikan bahwa naga jantan sangat menyayangi anak perempuannya itu.
Putroe sangat senang menghabiskan waktunya sambil membaca buku. Putroe juga diajari menulis. Putroe sangat suka menulis.
 
Bagikan ini...

Cerita Naga Dari Aceh Selatan #1

Naga jantan memiliki tanduk yang besar dibagian atas kepalanya. Janggut di dagu dan lehernya berkilau seperti mutiara.
Namun naga betina justru mempunyai tanduk yang lebih ramping dan hidung yang lebih kurus. Naga betina tidak memiliki janggut.
Biasanya naga kebanyakan berwarna hijau dan biru. Kedua warna ini memiliki energi keberuntungan bagi sang naga.
Para naga melakukan meditasi ratusan tahun lamanya untuk mendapatkan kedua warna keberuntungan itu.
Konon, di daerah Cina yang menjadi tempat naga ini tinggal, kutukan sangat ditakuti. Dan saat itu, cuaca buruk sedang melanda daratan Cina.
Kaum naga pun menghubungkan kutukan dengan kesalahan dari kalangan naga.
Sesuai dengan aturan para naga, bagi pasangan naga yang tidak memiliki keturunan berarti mereka pembawa sial.
Kebetulan sekali diantara mereka ada sepasang naga yang tak kunjung memiliki anak. Lalu raja memanggil pasangan naga itu ke istana.
“Semenjak nenek moyang naga, pasangan naga yang tidak memiliki keturunan maka harus meninggalkan tempat ini”
“Pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah kembali jika kalian belum memiliki keturunan,” tambah raja naga lagi.
Naga betina merasa putus asa. Rasa sakit hati karena dianggap sebagai naga pembawa sial terus berkecamuk dalam dirinya.
Naga betina meratapi nasib mereka yang malang.
“Masalah ini tidak buruk, kita beruntung bisa pergi. Siapa tau kita dapat menemukan suatu tempat yang jauh lebih baik dari sekarang,” ucap naga jantan yakin.
Ketika diusir, mereka pergi tanpa tujuan. Mereka sudah 14 hari berada di lautan lepas.
Tujuan mereka hanya pergi sejauh mungkin dari tempat mereka berasal. Akhirnya karena terlalu lelah, suatu hari mereka menepi dekat pantai untuk beristirahat.
“Kita akan pergi kemana?” tanya naga betina.
“Aku belum tahu tujuan kita. Kita akan pergi kemana alam memanggil kita” jawab naga jantan
Setelah cukup beristirahat, mereka langsung pergi.
Ketika berenang, tiba-tiba ada tarikan kuat yang mereka rasakan. Semakin mereka menuju ke arah Laut Hindia, tarikan itu semakin hebat. Naga jantan sangat penasaran.
“Ayo kita cari apa yang sedang menarik kita ini,” ajak naga jantan semangat.
“Jangan, ini terlalu berbahaya. Kita belum tahu apa yang menunggu kita disana”
“Jangan khawatir, aku sangat yakin tempat itu yang akan menjadi rumah kita kelak.”
Akhirnya mereka berdua setuju untuk mencari. Semakin mereka mendekati Samudra Hindia, semakin kuat tarikan yang mereka rasakan.
Setelah dua hari berenang, sampailah mereka di tempat yang cukup asing. Tempat itu berada dekat dengan pinggir pantai dan terdapat banyak batu karang.
“Inilah tempat yang menarik kita sampai disini”
“Sepertinya tempat ini sangat cocok untuk kita”
“Daerah ini sangat sempurna. Lihat! gunung dan laut mengelilingi tempat ini, indah sekali” Teriak naga betina kegirangan.
“Benarkan, kita akan mendapatkan tempat yang jauh lebih baik dari tempat kita dulu?” 
Kala itu, mereka tidak menyadari kalau sedang diperhatikan oleh seorang manusia sakti.
Mereka masih mengagumi keindahan alam ditempat baru itu.
Manusia sakti itupun dengan cepat keluar dari gua pertapaannya untuk menyambut tamu baru itu. Lalu dia memperkenalkan dirinya.
“Namaku Tuan Tapa, aku tinggal disini dan bertanggung jawab penuh atas ketentraman tempat ini”.
“Siapa gerangan kalian?” tanya Tuan Tapa sopan.
“Kami sepasang naga yang datang dari daratan Cina” Jawab naga jantan
“Kami diusir karena tidak memiliki keturunan ” tambah naga betina
“Apa maksud kalian datang ke tempat ini?
“Kami datang kemari karena mencari tahu apa yang telah menarik tubuh kami. Kami mohon agar tuan mengijinkan kami untuk tinggal disini,” pinta naga jantan.
“Baik, aku mengijinkan kalian untuk tinggal disini. Namun ada syarat yang harus kalian penuhi. Jika kalian sanggup, kalian boleh tinggal disini”
“Baik tuan, kami setuju. Apa saja syaratnya tuan?”
“Kalian tak boleh membunuh manusia, mengganggu binatang, dan merusak tumbuhan”. Bagaimana kalian setuju?”
“Baik tuan, kami sanggup memegang janji kami. Jika kami ingkar, kami bersedia diusir.”
“Sekarang kalian boleh istirahat.
Tempat tinggal kalian di seberang gunung itu,” tunjuk tuan. “Jaraknya hanya enam kali badan kalian”. 
“Terimakasih atas kemurahan hati dan penerimaan tuan.”
Kedua naga itu berenang menuju gunung yang ditunjuk oleh tuan. Mereka merasa kelelahan karena sudah lama tidak cukup beristirahat.
Dalam perjalanan mendaki, bebatuan kecil berhamburan kena pijakan kaki mereka. Bekas dari pijakan kaki mereka berbentuk jalan kecil yang unik.
Mereka mendaki gunung yang tinggi itu, dan akhirnya sampailah mereka di puncak gunung. Mereka bisa beristirahat.
Bagikan ini...

Kisah Si Burung Pipit Berlidah Pendek

Kakek dikejutkan dengan suara cip..cip yang berasal dari rerumputan. Ternyata hewan itu adalah seekor burung pipit yang malang.
Dia mengepakkan kedua sayapnya ketika kakek mendekat. 
Warna burung pipit itu sangat cantik.
“Kasihan sekali kakinya patah”
Kakek langsung mengambil lidi, kain kasa, dan daun obat yang sudah dihaluskan.
Kakek menyambung kembali kaki si burung yang malang itu. Lalu, kakek memasukkan burung pipit kedalam sangkar untuk beristirahat.
Keesokan harinya pipit sudah terlihat lebih segar. Dia menghabiskan semua makanan yang diberikan oleh kakek untuknya.
Kaki burung pipit yang telah diobati oleh kakek sembuh tak berbekas.
Setelah satu minggu, kakek pun membawa pipit ke sawah. Dia menemani kakek bekerja.
Hari demi hari Sizume semakin mahir terbang berkat latihan dari kakek. Kakek tambah sayang karena burung peliharaannya patuh dan rajin belajar.
Nenek tak suka melihat kakek berbicara dengan Sizume layaknya manusia. Nenek berencana untuk mengusir burung pipit peliharaan suaminya itu.
Suatu pagi ketika kakek hendak pergi ke sawah bersama Sizume. Nenek mengaduh kesakitan di kamar.
Nenek memohon agar kakek mau meninggalkan burung pipit untuk menjaganya.
“Jaga nenek dengan baik”
Sizume terbang menuju sangkarnya untuk melihat sisa makanan tadi malam. Sizume makan dengan lahap.
Tiba-tiba badannya sudah tercekik kuat tak bisa lagi bergerak.
“Berani-beraninya kamu makan berasku! Akan aku beri hukuman untuk perbuatanmu ini”
“Huuk…huk, maaf nek”
Nenek menarik lidah Sizume keluar dengan paksa. Lalu diambilnya pisau dapur.
Tanpa menjawab, nenek langsung memotong lidahnya Sizume. Dia mencicit kesakitan.
“Pergi kau!”
Kakek buru-buru pulang karena perasaannya tak beres.
“Kemana perginya Sizume?”
“Aku tidak tau, aku disini terus. Bisa jadi dia sudah pergi”
“Tak mungkin Sizume pergi tanpa pamit”
Kemudian, kakek langsung mencari Sizume ke dalam hutan.
Namun tak ada jawaban dari pipit kesayangannya itu. “Sizume, di mana engkau burung pipitku yang malang?”
Sampai malam, kakek tak menemukan Sizume. Kakek lalu mencari tempat untuk beristirahat.
Rencana kakek besok pagi akan dilanjutkan lagi pencariannya.
Kakek melanjutkan pencariannya begitu matahari terbit. Sampai siang hari, kakek belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan Sizume.
“Apakah Sizume sudah mati?” batin kakek.
Tanpa henti-hentinya kakek memanggil nama burung kesayangannya itu.
“Sizume oh Sizume, keluarlah pipitku yang malang”, teriakan kakek menggema ke seluruh hutan.
Segerombol burung yang bertengger diatas pohon bambu sedang memperhatikan kakek. Lalu burung itu terbang merendah mendekati kakek.
“Apakah kakek hendak bertemu dengan Sizume?”
“Ia, dimana Sizume?”
“Mari ikut biar aku tunjukkan”
Lalu kakek ikut kemana dibawa oleh si burung itu. Seperti dalam mimpi, kakek tak percaya tentang apa yang telah dilihatnya.
Sizume mendekati kakek, namun dia sudah tak bisa bicara lagi. Dia membiarkan kakek mengelus-ngelusnya.
Sizume ternyata sangat rindu sama kakek, tetapi Sizume tak berani kembali ke rumah.
Sizume menceritakan perlakuan nenek terhadapnya. Malam itu kakek mendengarkan cerita yang sebenarnya.
Ternyata Sizume peri terakhir yang dilindungi oleh kelompoknya. Mereka pergi dari negeri peri dengan menyamar menjadi burung pipit.
“Kami sudah lama tinggal di tengah hutan ini demi menyelamatkan generasi peri”
“Sampai akhirnya, tiba-tiba aku melihat seekor kucing hitam. Saat dia hendak menangkapku, aku melawan. Dan akhirnya kakiku terkena gigitannya sehingga patah. Beruntung ketika itu, kakek langsung menemukanku”.
Tiba-tiba Sizume berubah wujud menjadi seorang peri yang sangat anggun. Tumbuh dua pasang sayap transparan di belakang punggungnya.
Warna peri yang kehijauan menambah cantiknya Sizume.
“Aku sudah memaafkan nenek. Semua yang menimpa kita tak ada yang jelek, semua pasti ada hikmahnya”.
Sizume memberikan hadiah untuk dibawa pulang.
Ada dua kotak, satu kotak besar dan satu lagi kotak yang kecil. Kakek memilih kotak yang kecil dengan alasan tak sanggup membawa pulang kotak besar karena sudah tua.
Sizume mengantar kakek pulang melalui jalan rahasia, sehingga hanya beberapa saat kakek sudah berdiri di perbatasan hutan.
“Di dalam kotak itu terdapat dua kotak kecil. Satu kotak yang terkunci jangan dibuka sampai tiga bulan kedepan. Kotak satu lagi berisi tiga biji semangka. Kakek harus menanam ketiga biji semangka itu. Kakek harus ingat baik-baik pesanku ini”
Kakek mengangguk tanda mengerti. Kemudian Sizume mengucapkan salam perpisahan.
Sesampai di rumah, nenek sangat marah sama kakek karena sudah tiga hari kakek tidak pulang-pulang.
Nenek semakin marah ketika kakek menceritakan kalau dia baru saja bertemu dengan Sizume.
Kakek memberitahukan, bahwa dirinya kecewa sama nenek karena sudah menipunya.
Nenek langsung membuka kotak hadiah itu. Nenek membuka kotak yang tidak terkunci. Dia melihat isinya hanya berisi tiga biji semangka.
“Ha..ha…ha, hadiahnya cuma biji semangka busuk”, kata nenek sinis.
Namun ketika nenek hendak membuka kotak yang terkunci itu. Kakek lalu merampas kotak rahasia sambil menegur nenek.
Kakek menjelaskan pada nenek bahwa kotak ini tak boleh di buka selama tiga bulan kedepan.
Nenek merasa penasaran kenapa kotak itu disembunyikan. Dan nenek semakin marah pada Sizume, kenapa hanya kakek saja yang diberikannya hadiah.
Keesokan paginya, kakek mulai menanam ketiga biji semangka itu. Kakek juga ikut penasaran, apalagi hadiah dari Sizume dalam kotak terkunci itu.
“Aneh-aneh saja hadiah dan pesan dari Sizume”, batin kakek.
Selama kakek menjaga semangka, kesempatan nenek untuk mencari kotak terkunci yang selama ini disembunyikan.
Tapi selama ini usahanya sia-sia saja. Nenek tak menemukan tanda-tanda dimana kakek menyembunyikan kotak itu.
Sangking marahnya, nenek menghancurkan semua benda-benda yang ada di rumah.
Begitu juga dengan kuali dipecahkannya. Dan ketika menghancurkan guci tempat penyimpanan beras.
Tiba-tiba…
“Ternyata barang yang selama ini aku cari ada di bawah guci beras ini”, gumam nenek.
Nenek langsung mengambil kotak yang terkunci itu dan membukanya dengan kunci yang terjepit dikotak yang berukiran kelopak bunga.
Dalam kotak terdapat cincin emas yang berkilau. Nenek langsung memakai cincin itu dijari manisnya.
Tubuhnya bergetar hebat. Nenek menjerit-jerit kesakitan. Lalu tubuh nenek berubah menjadi seekor ular besar yang mengerikan. Nenek melihat kaki dan tangannya semua menyatu.
Nenek sangat menyesal karena tidak mau mendengar larangan kakek. Nenek akhirnya pergi mencari kakek di kebun semangka.
Sesampai nenek disana, kakek sangat terkejut karena ada ular besar muncul tiba-tiba. Kakek mengambil parang untuk mengusir ular itu.
Namun, ular itu tak mau pergi. Ular itu semakin mendekat kearah kakek. Karena kakek ketakutan, kakek mengayun-ayunkan parangnya.
Tanpa sengaja mengenai ekor si ular. Ular itu mendesis karena kesakitan dan pergi meninggalkan kakek.
Kakek mencari nenek selama beberapa hari, tetap saja nenek tak dijumpainya.
Kakek yakin, neneklah yang sudah mencuri kotak rahasia itu dan membawanya pergi.
Hari yang ditunggu sudah tiba, buah semangka sudah bisa dipanen.
Ketika kakek mulai membelah semangka pertama, kakek sangat terkejut. Dalam semangka itu keluar emas dan berlian.
Kakek lalu membelah semangka kedua. Bukan main terperanjatnya kakek.
Dalam semangka kedua itu keluarlah puluhan pekerja dengan peralatan yang lengkap.
Dalam semangka itu secara ajaib keluar bahan bangunan.
Tanpa menunggu, para pekerja itu langsung bekerja secara ajaib. Kakek melihat ada cahaya kebiru-biruan yang muncul di depannya.
Kakek mendengar seperti ada yang menyuruh para pekerja itu untuk bekerja lebih cepat lagi.
Namun kali ini, melihat sendiri rumahnya dibangun dalam waktu sekejap membuat diri kakek pingsan.
Setelah terbangun dari tidur lamanya, kakek melihat kalau dia sekarang berada dalam rumah yang sangat mewah.
Tiba-tiba kakek yang menjadi pemuda gagah itu melihat gerombolan burung pipit beterbangan disampingnya.
Tepat di depannya, berdirilah Sizume.
Bagikan ini...